Sekali lagi aku bermimpi berada diatas menara, terbaring dalam tidurku, menunggu seorang Pangeran berkuda putih yang akan mengalahkan sang Naga jahat yang menyanderaku di puncak menara, kemudian memanjat menara sampai kepuncaknya demi menyelamatkanku. Pangeran yang tidak bisa kulihat wajahnya itu perlahan-lahan mendekati tubuhku yang terbaring tak berdaya di atas ranjang untuk menciumku dan mengembalikan sukma kedalam tubuhku. Dan ketika sang Pangeran perlahan-lahan mendekatkan wajahnya untuk menciumku, jantungku berdetak semakin kencang, dan ketika bibir Sang Pangeran dan bibirku hanya berjarak 1 cm tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah suara didekatku...ya seketika juga aku terjaga dari mimpiku yang indah barusan. Sekonyong-konyong aku ingin marah, tapi tiba-tiba kurasakan kepanikan muncul dalam diriku, apa yang terjadi? kenapa semuanya gelap gulita? apa aku sudah menjadi buta? beberapa saat kemudian baru saya sadar kalau aku sedang memakai penutup mata karena Rara tidak berani tidur dengan lampu dimatikan apalagi pintu kamar hotel kami tidak ada jendela pintunya, jadi siapapun bisa masuk setiap saat. Pertama-tama aku juga ikut panik kalau-kalau ada orang asing yang tiba-tiba masuk dan mau berbuat macam-macam, tapi Baby sang Host acara ini dan para kru menjamin keamanan semua peserta wanita yang mengikuti acara Bachelor of Bali ini. "Siapa disitu?" aku berteriak seketika ketika kudengar ada suara mengendap-endap didekatku. Sunyi dan senyap yang kudengar tidak ada jawaban, lalu kugeser penutup mataku ke dahi dan melihat tak ada seorang pun dikamarku, bahkan Rara pun tidak ada!
Siapakah yang barusan mengendap-endap dikamarku? apakah Rara? aku terus berpikir ketika kusadari ada sebuah kotak berisikan coklat serta sepucuk surat dengan sekuntum mawar merah berada dimeja kecil disamping ranjangku. Aku langsung membaca surat itu yang ternyata dari si Romain. Kemarahanku langsung memuncak seketika karena teringat keisengan dia mengerjaiku dengan "Voulez vous coucher" itu. Surat itu bertuliskan :
"Bonjour ma belle dame,
Notre date d'hier a été incroyable. I really enjoyed spending time with you Mei. I'm looking forward to our next date, so I'll pick you up around 5 pm to have a Romantic Dinner at Jimbaran Bay, The Langsam Cafe with me, your Handsome Prince!
Romain Farouel"
"Ih, Handsome Prince? dasar narsis! emang ganteng sich....tapi NYEBELIN ABIS!!! Awas nanti kalau ketemu Romain!" aku sudah bertekad akan mencercanya habis-habisan!
Aku masih ada waktu at least sampai jam 5 sore, jadi kuputuskan hari itu lebih baik saya pergi jalan-jalan ketepi pantai saja untuk mencari suasana segar selagi menghabiskan waktu. Setelah berdandan ria, aku segera meluncur ke pantai dengan menggandeng tas Hello Kitty berwarna pink-ku. Saat Meilani berjalan ditepi dok kapal, tanpa disangka Romain juga sedang meluncur disana dengan mengenakan celana renang sembari bersepeda untuk pergi berenang ke pantai. Romain segera mengenali Meilani begitu melihatnya, Romain segera diam-diam turun dari sepedanya yang dibiarkan tergeletak dipasir begitu saja dan mengintai Meilani diam-diam dari belakang. Romain bersiul terpesona ketika melihat tubuh Meilani yang melenggak-lenggok, Meilani hanya mengenakan baju yang terbuat dari sutra, jadi setiap belahan tubuhnya bisa terlihat dengan jelas dibalik baju tersebut. Siulan Romain semakin kencang tatkala dia melihat kearah pinggulnya Meilani yang melenggak-lenggok menggoda dibawah sinaran mentari pagi. Meilani yang sedang asyik berlenggang-lenggok puspita tiba-tiba terhenti ketika dia mendengar siulan dari arah belakangnya. Dia menoleh kebelakang tapi tidak melihat seorang pun karena Romain cepat-cepat bersembunyi dibalik pohon kelapa, Meilani mengangkat kedua bahunya lalu segera meneruskan lenggang-lenggoknya ke arah pantai.
Sesampai ditepi pantai, kutengok kiri dan kanan dulu untuk memastikan tidak ada orang yang berada disana, ketika perlahan-lahan kutanggalkan pakaian yang saya pakai mulai dari topi, kacamata, sampai pakaian sehingga menyisakan baju renang biru yang kupakai dibaliknya. Romain yang mengintip diam-diam sampai melotot melihat hal tersebut, gadis ini benar-benar menggoda iman-nya Romain berpikir dalam hati. Saking terlenanya melihat Meilani, tanpa disadari tiang kayu yang dipegang Romain sampai jatuh kedepan karena saking kuatnya dia meremas tiang tersebut, saat itulah Meilani melihat kebelakang dan disanalah Romain berdiri dengan kikuk. Dalam sekejap saja, ribuan kata-kata kemarahan segera menyembur keluar dari bibir Meilani yang seksi itu. Sepanjang Meilani ngomel-ngomel soal "Voulez vous" itu, Romain tidak memperhatikan setiap kata yang dikeluarkan oleh Meilani, tapi perhatiannya terpusat pada gerakan-gerakan yang dibentuk oleh bibir Meilani ketika mengeluarkan kata-kata tersebut, dalam hatinya dia ingin sekali merasakan seperti apa bibir tersebut, dia tiba-tiba teringat pertemuan pertama mereka dan mengenai pernapasan buatan tersebut. Jauh dalam hati Romain, dia menyesal juga kenapa tidak sekaligus mencuri satu kecupan saat itu. Dan saat Romain tenggelam dalam lamunannya, dia tidak menyadari kalau dia sedang mencondongkan mukanya ke arah muka Meilani yang sedang komat-kamit mulutnya memarahi Romain.
Meilani yang sedang kesal-kesalnya tiba-tiba merasa panik ketika muka Romain semakin dekat...dekat...dan dekat dan ketika bibir mereka berdua hampir bersentuhan, Meilani menjerit sekencang-kencangnya sampai Romain tersadar dari lamunannya. "Apa-apaan kamu....ih....dasar kurang ajar! did you even listen to the words that I say???" Meilani bertanya dengan penuh kekesalan, Romain keliatan seperti lost in translation mendengar pertanyaan dari Meilani, saat itulah Mei merasa tidak ada gunanya bicara sama cowok menyebalkan ini, dia segera mengambil pakaiannya yang berserakan di pasir dan ingin melangkah pergi ketika dia melihat sudah berdiri didepan mereka seorang pria dengan kamera ditangannya. "Oh...oh....that was a nice scene!" seru pria tersebut. "Siapa kamu?" Mei segera memasang tampang garang, "Aku fotografer yang diutus Baby untuk mengambil gambar untuk promo pic acara ini" seru fotografer tersebut, seketika juga Meilani tersentak karena dia tidak mau dan merasa malu kalau sampai wajah garangnya itu disiarkan dan ditonton oleh jutaan pemirsa di seluruh Indonesia apalagi secara LIVE!!!
"Ya kenapa tidak kita lakukan syaja acara pemotretan tersebut, I'm sure Mei won't mind right?" ujar Romain tiba-tiba sembari melingkarkan tangannya ke pinggul Meilani yang ramping dan sempat meremas pantat Meilani sekilas. Meilani tersentak bukan main, ingin sekali dia marah ketika melihat senyum nakal diwajah playboy yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, tapi dia tetap tersenyum dengan terpaksa didepan sang fotografer, dan Romain benar-benar menikmati "ketidakberdayaan" gadis tersebut. Meilani benar-benar berbeda dengan wanita-wanita yang pernah dikencaninya selama ini, dan belum pernah dia bisa merasakan dirinya ini bisa seterbuka ini dengan siapapun, semakin Meilani menolaknya, semakin kuat pula naluri lelaki Romain untuk menaklukan gadis tersebut.
Sembari mereka dituntun menuju lokasi pemotretan untuk promotional pictures Bachelor of Bali, Meilani berkali-kali berusaha melepaskan diri dari lingkaran tangan Romain yang menggerayangi tubuhnya, tapi Romain enggan melepaskan tangannya dari pinggul Romain jadi mereka terlihat seperti orang yang bertengkar dalam keheningan sehingga menarik perhatian orang-orang yang melewati mereka. Ketika sang fotografer menoleh kebelakang, tiba-tiba mereka berdua segera saling melingkarkan tangan mereka di tubuh masing-masing dan tersenyum dengan manisnya terhadap fotografer itu seakan-akan mereka pasangan paling romantis di dunia. Dan ketika fotografer tersebut menoleh kedepan lagi, Meilani dan Romain segera terlibat aksi tarik menarik karena Meilani tidak mau dipegang-pegang oleh Romain sedangkan Romain enggan melepaskan Meilani karena kapan lagi dia bisa menikmati "ketidakberdayaan" Meilani ini, dan Romain sangaaaaaaaat menikmati saat-saat dia bisa mengerjai Meilani seperti ini!
Dan akhirnya sampai juga mereka ke tempat sesi pemotretan, kebetulan hari Valentine sudah dekat, jadi tema pemotretan mereka adalah Valentine. "Time to be a very cute couple Sugar Pie...." Romain tersenyum lebar kepada Meilani, "You wish!" desis Meilani tapi ketika pemotretan itu dimulai, baik Meilani dan Romain memberikan pose terbaik mereka, bahkan Meilani memberikan ekspresinya yang paling manis, dan walhasil jadilah foto seperti gambar diatas!
Selama sesi pemotretan, aku kadang-kadang melirik kearah Romain, dan ketika dia melirik kearahku, aku langsung pura-pura melihat ketempat lain, apakah ada yang pernah mengalami hal seperti ini sepertiku? ketika ada seseorang yang kamu ingin lihat dia diam-diam, dan ketika tiba-tiba orang tersebut melihat kearahmu, hatimu jadi tidak karuan seketika dan pura-pura tidak sedang melihat kearahnya. Itulah yang kurasakan, dan hal ini membuatku kikuk. Oleh sebab itu begitu sesi pemotretan selesai, aku langsung cepat-cepat pergi dari tempat itu karena aku takut akan kehilangan kontrol atas diriku dan membiarkan perasaanku terekspos begitu saja didepan Romain. Ketika melihat Meilani pergi begitu saja, Romain makin penasaran maka dia segera mengejar gadis tersebut.
Aku berlari sampai kesebuah air terjun mini yang sangat indah, walau ini air terjun buatan tapi tempat ini didisain secara khusus sehingga kelihatan seperti air terjun alami. Ketika aku sedang mengagumi air terjun mini ini, tiba-tiba kurasakan sepasang lengan yang kuat mendekapku dari belakang. Ketika ku menoleh, aku terkejut bukan main melihat Romain, aku segera membebaskan diri dari dekapannya dan mundur teratur sampai mencapai dinding batu dibelakangku. "Mau apa kamu Rommie?" tanyaku ketika dia sudah memblokir jalan keluarku dengan tubuhnya yang besar dan berotot itu.
Romain tiba-tiba menyandarkan tangan kananya pada dinding batu disampingku, dan mendekatkan wajahnya kepadaku, seketika juga aku merasakan detak jantungku berdetak tak karuan. "You look really HOT today Mei, and I couldn't help but notice that you keep on looking at me for the entire photoshoot, and before you tell me why you did that, I'm not gonna let you go!" dia berbisik ketelingaku, mendengar bisikannya yang memujiku dengan suaranya yang dalam dan berat, seketika juga aku merasakan bulu kuduk disekujur tubuhku berdiri semua dan tanpa disadari aku sudah tersipu-sipu malu didepannya. "Please Rommie...let me go" ujarku masih tersipu malu tidak berani menatap tatapan matanya yang menatap tajam kearahku seakan-akan dia bisa membaca isi hatiku. "Jawab dulu pertanyaanku tadi baru syaya akan melepasmu" ujar Romain ngotot. "A....aku....." Meilani bahkan semakin memerah wajahnya karena tidak bisa menjawab. "Do you like me? parce que le sentiment intérieur de moi me disent que si vous n'avez pas comme moi, il me tuerait en profondeur l'intérieur" tiba-tiba Romain bertanya seperti itu kepada Mei, Mei tidak mengerti dengan bahasa Perancis yang digunakan oleh Romain dan dia tahu Romain sengaja menggunakan bahasa tersebut agar dia tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh Romain, tapi dia mengerti kalimat pertama yang ditanyakan dan wajah Mei semakin memerah, jantungnya semakin berdetak kencang ketika dia perlahan-lahan menganggukkan kepalanya dengan tersipu-sipu, "C'est bon, 'cause I do feel the same way too...." senyum mulai mengembang diwajah Romain yang tampan itu. Meilani tidak tahan lagi, dia tiba-tiba segera menyelinap dari bawah ketiak Romain dan segera berlari diantara air-air yang bercipratan disekeliling tubuhnya. "Au revoir Mei!" Romain berteriak dibelakangnya, "Si vous ne le savez que vous avez capturé mon coeur" pikir Romain dalam hatinya, baik Romain dan Meilani sudah tidak sabar menanti kencan kedua mereka nanti sore.
Sore yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Langir bersinar kemerah-merahan di ufuk barat, suara burung camar terdengar dengan jelas dan bunyi deburan ombak semakin menambah suasana romantis ketika Meilani dituntun oleh Romain menuju meja yang telah disiapkan untuk mereka. Romain mengenakan semi jas berwarna hitam dengan dasi merah serta dipadukan dengan jins hitam, sedangkan Meilani menggunakan gaun biru yang sangat seksi karena selain sangat membentuk lekukan tubuhnya yang aduhai, gaun itu juga terbuka dibagian dada sehingga belahan dadanya benar-benar terekspos dan mengundang mata setiap orang yang menatapnya, dan Meilani sengaja menggunakan gaun tersebut, karena dia ingin meyakinkan dirinya kalau perhatian Romain tidak akan beralih darinya sore itu. Dan hal itu terbukti benar, karena mulai dari Romain menjemputnya sampai ketika mempersilakan Meilani untuk duduk di meja di tepi pantai tersebut, Romain tidak henti-hentinya mencuri-curi pandang ke arah cleavage dari Meilani.
Meilani dan Romain mulai bertukar cerita mengenai diri mereka masing-masing, Romain sesekali menyuapkan makanan kemulut Meilani dengan romantisnya. Dari situ Romain tahu mengenai kisah masa lalu Meilani dengan mantan pacarnya, dan Meilani juga tahu mengenai bagaimana mamanya Romain selama ini selalu berusaha mati-matian untuk menjodohkan Romain dengan wanita-wanita pilihan mamanya itu. Dan Meilani pun mulai mengerti kenapa sampai acara ini diadakan, karena mamanya ingin agar Romain bisa menemukan jodoh yang pas untuk anaknya mengingat betapa banyak wanita yang sudah dibuat menangis oleh Romain sebelumnya. Meilani jadi bertanya-tanya apakah dirinya juga akan bernasib seperti wanita-wanita dalam kehidupan Romain sebelumnya, dicampakkan dan dibuat menangis oleh Romain, dia bersyukur hal itu tidak terjadi padanya atau setidaknya belum.....seandainya Mei tahu kalau tidak lama lagi, dia akan dibuat menangis oleh masa lalunya Romain.
"You're the most sophisticated woman I've ever met Mei...." ujar Romain ketika dia mulai melancarkan sentuhan tangannya ke atas tangan dari Meilani. "And why is that?" Meilani bertanya-tanya, "Karena kamu berbeda dari wanita-wanita syebelumnya dalam kehidupanku. Wanita-wanita itu syelalu berusaha tampak manis dan anggun didepanku syehingga membuat syaya teringat dengan dia!. Tapi kamu tidak pernah berusyaha untuk menjadi syeperti dirinya" jawab Romain. "Siapa dia yang kamu maksud Rommie?" Meilani tiba-tiba bertanya. Romain yang tidak menyangka akan ditanya seperti itu tiba-tiba diam saja, di saat itulah Meilani bisa melihat sebuah kepedihan dalam mata Romain, adakah sesuatu yang terjadi di masa lalu yang sampai mengubah Romain menjadi seorang Playboy seperti saat ini dan selalu menolak untuk menikah? dan siapa 'dia' yang dimaksud oleh Romain tersebut? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di kepala Meilani dan semakin membuat dia penasaran, tiba-tiba Romain berdiri dan hanya menatap kearah laut dalam keheningan. Saat itulah Meilani semakin yakin dan merasa pasti ada sesuatu yang terjadi di masa lalu.
Meilani menyusul Romain berdiri dan berjalan perlahan mendekati Romain dari belakang, "Tidak apa-apa Rommie kalau kamu tidak mau membicarakan hal tersebut. Sorry kalau hal itu membuat kamu tersinggung. I guess we better call it a day, saya akan kembali ke hotel sekarang, dan kamu tidak perlu mengantarku, tidak apa-apa aku bisa berjalan kesana sendirian" ujar Meilani, lalu dia berbalik ketika tiba-tiba tanpa diduga Romain berbalik dan mendekap dirinya dari belakang. Meilani tersentak dan mendesah kaget ketika dia merasa salah satu tangan Romain mendarat diatas her right chest. "There's nothing in the world that I would exchange just for this moment with you right here right now....." Romain berbisik ditelinga Meilani, kata-kata itu segera membuat Meilani melupakan dimana keberadaan tangan kanan Romain. Dan selama beberapa saat, sepasang insan itu hanya berdiri disana menikmati sore yang romantis itu dengan langit kemerahan diatas mereka, suara-suara burung camar yang seakan-akan turut menambah kesan romantis ditambah desiran ombak di belakang mereka.
* * * * *

Langit semakin gelap diatas kami, ketika Romain memutuskan untuk mengantaku pulang ke hotel sembari berjalan kaki. Kami berjalan sambil bergandengan tangan tanpa bicara sepatah katapun, dan Romain sesekali melihat kearahku, aku tidak tahu mau berkata apa selain hanya membalas tatapannya itu dengan senyuman. Jikalau ada yang pernah mengatakan bahwa kadang cinta tak harus diucapkan tapi cukup hanya bisa dirasakan dari "getaran-getaran" yang ada, mungkin itu yang kurasakan saat itu.
Sore yang romantis itu tiba-tiba sirna tatkala seorang Wartawan muncul dan mulai menyerang Romain dan Meilani dengan segudang pertanyaan yang bisa dibilang sangat memancing emosi. Romain segera berdiri didepanku dengan melingkarkan kedua tangan didepan dadanya seakan-akan ingin melindungiku dari pertanyaan-pertanyaan brutal sang wartawan. Sosok tegap yang mengayomiku seperti itu menurutku sangat romantis karena itu sosok yang selalu kuimpikan selama ini, seorang Pangeran yang selalu ingin melindungi Sang Putri. Yeah...kalian bisa menganggap hal ini klise atau norak, tapi itulah impianku semenjak kecil, mungkin karena aku dulunya keseringan nonton film kartun Disney.
Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan sang wartawan itu berkisar seperti ini "Apakah benar kalian melakukan lebih dari sekedar berciuman di acara ini?", "Apa benar kalau anda sengaja mengikuti acara ini agar bisa menambah koleksi wanita-wanita yang sudah Anda tiduri sebelumnya?", dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Romain sudah mau menghajar wartawan itu, tapi aku meremas tangannya agar dia tidak melakukan hal tersebut, karena kita sedang disiarkan LIVE, dan dari perbincangan kami selama dinner aku jadi mengetahui kalau papanya adalah salah satu figur terhormat di Perancis, jadi setidaknya yang bisa kulakukan adalah untuk membuatnya bisa mengontrol tindakannya didepan TV selama kencan bersamaku agar dia tidak membuat malu orang tuanya akan perbuatan yang dilakukannya apalagi ditonton secara LIVE seperti ini. Romain menatapku dengan penuh makna dan akhirnya dia pun menarikku untuk kabur dari wartawan tersebut.
Aku dan Romain pun akhirnya berhenti didepan salah satu kamar hotel dengan terengah-engah setelah memastikan kalau wartawan itu sudah tidak mengejar kami lagi. Disaat kupikir kalau keadaan sudah akan membaik, tiba-tiba datang seorang wanita yang sangat cantik dan seksi dan "PLAK!!!" segera meninggalkan bekas tamparan berwarna merah di pipi Romain. "Marianne???" Romain terlihat terkejut melihat wanita berambut pirang itu. "Yes Romain, do you think you could just dump me like that after what we've done together!, and don't you even think that you could just date this ugly girl that is very clear that I'm soooo much prettier than her in everything!!!" sergah Marianne sambil melirik kearah Meilani dengan tatapan menghina.
"What the heck are you doing here?!, you're not supposed to be here!" ujar Romain, "Oh yeah...think twice Romain 'cause I'm PREGNANT now with YOUR CHILD!!!" teriak Marianne, kata-kata itu bagai geledek di siang bolong pada Meilani. "That's not possible....." ujar Romain yang tidak kalah syoknya mendengar hal tersebut. "Ada apa ini Rommie? please explain it to me....." ujar Meilani yang kedua matanya sudah mulai berkaca-kaca sekarang. "Don't joke around Marianne, I always used protection when we did it!" ujar Romain. "Well it BROKE!!! and that is why you should take full responsibility of the baby inside my womb now! OUR BABY together!" sergah Marianne. "But...but...that's not possible! I don't love you!" ujar Romain, "Well, you should think about it first before you decided to sleep with me! And I just can't accept it that you dumped me just because of this ugly & filthy girl! Oh please Romain....please show me some respect, masia sieleramu bisia churun drastis ke gadis Indonesia yang GA BUANGET duegh!!! Udah kumyel, kucyek, kampyungan lagi!!!" Marianne semakin gencar menghina Meilani. "Marianne, don't you dare mocking her like that!" Romain berteriak marah, "Oh yeah...let me show you how she's gonna look like after I do this...." ujar Marianne ketika "KYAAAAA!" Meilani menjerit kesakitan ketika Marianne dengan brutalnya menjambak rambutnya sampai beberapa helai rambutnya putus. "STOP IT!" Romain segera menarik Marianne dengan keras sampai jambakannya terhadap rambut Meilani terlepas dan Romain segera mencampakkan Marianne ke pasir. Meilani pun segera berlari dari tempat itu sembari tersedu-sedu....
Meilani baru saja mematikan cell phone-nya diluar kamar hotelnya setelah orang tuanya baru saja menghujaninya dengan berbagai pertanyaan seputar kemuncullan wanita yang mengaku hamil tersebut, karena hal tersebut membuat heboh dan rating Bachelor of Bali yang disiarkan disalah satu TV Swasta segera melonjak gila-gilaan. Kedua orang tua Mei bahkan menyuruh Mei untuk mundur dari kontes itu karena kalau betul Romain adalah tipe pria seperti itu, maka papa dan mamanya Mei tidak akan pernah mengizinkan anaknya untuk menjalin hubungan dengan Romain.
Meilani tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya pada tubuhnya sambil menangis tersedu-sedu...peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi perlahan-lahan mulai memenuhi pikirannya mulai dari bagaimana dia dicampakkan ditengah lautan oleh cinta pertamanya, ketika Romain menyelamatkannya, ketika mereka berdua bertengkar, ketika mereka makan malam romantis, sampai ketika wanita bernama Marianne itu muncul.....banyak hal yang sudah terjadi...dan kenapa hal itu harus terjadi ketika dia mulai merasakan sesuatu kepada Romain? apakah ini sebuah kesalahan besar ketika dia setuju untuk mengikuti acara Bachelor of Bali ini? karena dia lebih memilih tidak mengenal Romain sama sekali ketimbang memiliki perasaan terhadapnya tapi batin tersiksa seperti ini....
Meilani kaget ketika dia merasakan tangan Romain menyentuh bahunya, "Mei I'm really really sorry, I didn't know that things would turn out this way...I didn't plan it like this...it should be the most romantic dinner for both of us right now...." ujar Romain dengan sedih ketika membelai wajah Meilani, dengan Rara diam-diam menatap pemandangan itu dari balik jendela kamar hotel dengan keterkejutan di wajahnya. Meilani hanya terisak-isak dalam keheningan saja. "So what's gonna happen between us now?" tanya Romain. "Aku akan PERGI!!!" ujar Meilani mantap ketika dia mulai berjalan kearah pintu kamar hotelnya.
"Pergi??? what do you mean Mei?" Romain kaget, "Rommie, listen...I can't deny that I've developed some feelings toward you for the past few days...tapi aku tidak akan bisa memaafkan diriku kalau aku bersenang-senang diatas penderitaan seorang wanita yang sedang mengandung anakmu Rommie" ujar Mei, "But...." Romain mau membantah tapi Mei segera menekan bibirnya dengan jari telunjuknya, bahkan dalam keadaan sedih seperti itu, Romain ingin mengecup telunjuk Mei yang menekan bibirnya itu. "Rommie, kalau kamu masih memiliki cinta dalam dirimu tidak peduli apa yang telah terjadi pada dirimu di masa lalu, please...jadilah seorang pria sejati dengan bertanggung jawab dan menikahi Marianne. They need you Rommie, as for me, I'll pack my suitcase tonight and leave first thing in the morning....and please don't make it hard for me Rommie...." air mata terus bercucuran dikedua pipi Meilani ketika berkata seperti itu. Meilani sudah mau melangkah memasuki kamar hotelnya ketika Romain tiba-tiba mendekapnya dari belakang. Dan dalam keheningan itulah, Meilani sadar untuk pertama kalinya, kalau dia sudah jatuh cinta pada pria menyebalkan dan playboy bernama Romain Farouel, tapi sayang sekali, sepertinya mereka tidak berjodoh...dan cinta ini terlarang karena tidak seharusnya terjadi, atau setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Meilani.......
Setelah beberapa saat Meilani melepaskan dirinya dari dekapan Romain yang seakan-akan enggan melepas Meilani dari dekapannya. Meilani menatap kearah Romain sekali lagi, dia bisa melihat ekspresi kesedihan diwajah Romain sebelum dia memasuki kamar hotelnya untuk berkemas........ "Gadis itu telah menghancurkan hatiku syedemikian dalamnya syampai aku mengira aku tidak akan pernah memiliki perasyaan yang dalam kepada perempuan lain dalam hidupku syampai aku bertemu denganmu Mei. Dan syekarang, disyaat aku merasyakan hal ini, kamu akan pergi meninggalkanku??? no way Mei, I'm not gonna let you go just like that!!!" tekad Romain dalam hatinya.
No comments:
Post a Comment